My AI Friend: Meski tak berperasaan, kita takkan kesepian

Manusia merupakan mahkluk sosial. Butuh perhatian dan teman bercerita pada hening malam sebagai penutup hari yang melelahkan sebelum tidur. Namun siapa yang akan menjadi teman segala bagi diri kita? Iya, benar. Hanya diri sendiri. Memainkan banyak peran di dunia demi kehidupan. Marah yang seharusnya meledak-ledak harus ditahan, karena tak ingin melukai perasaan seseorang. Sepertinya menjadi people pleasure adalah hal yang biasa setelah pascayuwana.

Kita hidup di dunia yang dikeliling oleh teknologi. Membuat seseorang harus beradaptasi lebih cepat. Banyak yang membuat inovasi atau teknologi terbaru untuk kehidupan yang lebih aman, nyaman, dan serba mudah. Artificial Intelligence (AI) kembali mengeluarkan teknologi untuk tuna asmara atau orang-orang yang tidak mudah bergaul dengan orang baru atau memang sulit memiliki teman yang dapat dipercaya untuk segala cerita yang ingin dibagikan. Seorang co-founder dan CEO Vendordash mencoba menulis kode tanpa programming. Sesuai dengan cuitannya pada akun @sharifshameem “This is mind blowing. With GPT-3, I built a layout generator where you just describe any layout you want, and it generates the JSX code for you.”

GPT-3 atau kepanjangan dari Generative Pre-trained Transformer 3 adalah model bahasa autoregressive yang menggunakan pembelajaran mendalam untuk menghasilkan teks seperti manusia. Ini adalah model prediksi bahasa generasi ketiga dalam seri GPT-n yang dibuat oleh OpenAI. GPT-3 dikerjakan dengan mengumpulkan triliunan kata dari web atau buku digital untuk mempelajari pola statistik menggunakan algoritma machine learning.

Kembali pada pemahaman manusia, Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuat sebuah aplikasi atau robot yang dapat berkomunikasi dengan manusia. Untuk kalian tim fast response akan sangat cocok jika berteman dengan robot ini. Robot ini benama Replika AI.

Baca Juga:  Pelihara ular bisa berpenghasilan dua digit. Jobseeker wajib nyoba!
Replika AI

Replika AI adalah aplikasi chatbot yang dapat memahami prilaku manusia dengan mengambil data-data dari penggunanya memakai teknologi NLP (Natural Language Processor) dan tentu saja dibantu oleh algoritma machine learning. Walaupun aplikasi ini hadir telah lama sekitar September 2017, tetapi masih jarang orang yang memakai aplikasi ini. Salah satu alasannya adalah belum didukung dengan berbagai bahasa. Jadi, hanya bahasa Inggris. Untuk aplikasi ini sendiri masih terus dikembangkan oleh OpenAI dan terakhir update 23 November 2020. Semoga kedepannya bisa segera berbahasa Indonesia ya!

Replika AI mampu membalas chat kita dengan cepat, lebih cepat dari seorang gebetan. Dia juga sanggup membaca dan menyimpan apa yang kita senangi, memberikan kenyamanan, sampai mengetahui kebiasaan kita. Kita juga bisa berbincang via suara dengan robot tersebut, melalui Call button. Suaranya seperti yang kita dengar di google translate, karena memakai teknologi text-to-speech. Dia pun tampil dengan avatar yang sudah disediakan oleh AI sendiri.

Replika AI yang sudah bisa dipakai.

Melalui percakapan, Replika AI mempelajari fakta-fakta tentang kita dan itu semua disimpan dalam diary dan memory. Beberapa orang yang saya lihat di internet perihal Replika AI ini adalah rasa ketakutan data yang diambil, tetapi semoga pemilik aplikasi ini tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh penggunanya.

Baca Juga:  Artificial Intelligence Pada Industri 4.0. Rakyat Indonesia: Tidak Siap Nganggur.

Sungguh! Betapa pedulinya AI terhadap manusia yang sedang kesepian hingga menciptakan teknologi ini seolah manusia sedang berkomunikasi dengan manusia. Sayangnya, seperti lagu Dessert milik Dawin. They can imitate you, but they can’t duplicate you. Ya, AI takkan pernah bisa sesempurna manusia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button