Artificial Intelligence Pada Industri 4.0. Rakyat Indonesia: Tidak Siap Nganggur.

Percaya atau tidak, manusia tidak pernah siap dengan perubahan. Apalagi setelah sahnya UU Omnibus Law, rasa ketakutan sebagai rakyat Indonesia sekaligus karyawan swasta malah semakin menjadi-jadi. Seolah untuk merasakan menjadi pekerja itu akan teramat mahal. PHK (Putus Hubungan Kerja) terjadi dimana-mana, karena adanya pandemi dan perusahaan tak cukup kuat membayar tenaga kerja disebabkan omset yang melemah.

Sebelum munculnya Omnibus Law, Industri terus berevolusi. Maka, tak heran ketika Artificial Intelligence muncul dimuka bumi membombandir pasar industri. Sesuai konsep yang dimiliki Artificial Intelligence, yaitu sebuah mesin yang mampu beradaptasi pada sesuatu atau singkatnya kecerdasan yang ditunjukkan oleh mesin. Artificial Intelligence (AI) dikenal dengan Kecerdasan Buatan. Dimana seharusnya disambut baik, karena banyak sekali keuntungannya. Sayang sekali, manusia yang terlahir sebagai warga negara Indonesia justru merasa terancam. Alih-alih mengatakan bahwa Kecerdasan Buatan mampu mengganti manusia, terlebih dibidang manufaktur. Padahal kenyataannya, mesin tidak pernah menggantikan peran manusia. Memang benar, beberapa pekerjaan banyak melibatkan Kecerdasan Buatan, namun itu justru untuk mempermudah.

Baca Juga:  Lupakan Silicon Valley, kenali Negara Digital Pertama: ESTONIA

Salah satu contoh adalah pelayanan konsumen virtual. Ini bukan berarti kita sedang mengadu kepada mesin/bot. Ada pula berita yang menyajikan informasi tentang para ojek sedang mengadakan unjuk rasa, karena posisinya sedang ditekan oleh adanya aplikasi antar jemput bernama Gojek. Dalam dunia industri, mesin atau kecerdasan buatan merupakan investasi jangka panjang, tetapi mesin atau robot atau kecerdasan buatan tidak memiliki emosional dan rasional kemanusiaan.

Sehebat apapun Artificial Intelligence (AI) yang memang faktanya mampu menyeimbangkan diri atau melakukan apapun yang bisa dilakukan manusia. Namun apakah AI sanggup menciptakan sesuatu yang berkaitan dengan kreativitas? Ternyata bisa. Ayo! Mengenal lebih dekat dengan AIVA (Artificial Intelligence Virtual Artist). Ini adalah sebuah komposer elektronik, kalian bisa mendengarkan disini.

Pada beberapa bagian yang melibatkan otak memang seharusnya menjadi tugas manusia, namun apakah kemampuan berpikir kritis dapat direnggut oleh Artificial Intelligence? Bagi para pengambil keputusan mungkin akan beranggapan bahwa tidak ada yang mampu menyainginya, tetapi silahkan lakukan pendekatan dengan AIBE (Artificial Intelligence Business and Entrepreneurship) sebuah perusahaan yang memiliki misi untuk meningkatkan pemahaman publik tentang AI dan menciptakan percakapan seputar implikasi etika, sosial dan ekonomi AI.

Perusahaan AIBE

Jadi, apakah dimasa depan AI dapat menggantikan pekerjaan kita? Kemungkinan besarnya iya, tapi kembali lagi pada diri kita. Untuk bisa bersaing dengan mahluk virtual yang tak berperasaan ini, satu-satunya cara adalah dengan menaikan kualitas diri. Bagaimana bisa mengontrol rasa percaya diri agar tetap maju dan berguna untuk masa depan. Sebab yang dipertaruhkan dihari ini merupakan keberhasilan dimasa yang akan datang.

Baca Juga:  Mengenal profesi superstar seorang Data Scientist

Kalau memang kita tidak pernah siap menjadi pengangguran, maka lakukan perubahan. Dimasa depan yang masih terlihat abu-abu, kita tak pernah tahu akan sehebat apa AI melakukan pergerakan untuk jangkauan yang lebih luas.

Note: Postingan ini dibuat sengaja untuk menakut-nakuti anak muda yang merupakan iron stock dan yang akan mengambil peran sebagai agent of change.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button